Minggu, 08 Agustus 2010

POSISI TEKNO-EKONOMI DI DALAM TEORI ARSITEKTUR VITRUVIUS

Menurut Vitruvius di dalam bukunya De Architectura (yang merupakan sumber tertulis paling tua yang masih ada hingga sekarang), bangunan yang baik haruslah memilik Keindahan / Estetika (Venustas), Kekuatan (Firmitas), dan Kegunaan / Fungsi (Utilitas); arsitektur dapat dikatakan sebagai keseimbangan dan koordinasi antara ketiga unsur tersebut, dan tidak ada satu unsur yang melebihi unsur lainnya. Dalam definisi modern, arsitektur harus mencakup pertimbangan fungsi, estetika, dan psikologis. Namun, dapat dikatakan pula bahwa unsur fungsi itu sendiri di dalamnya sudah mencakup baik unsur estetika maupun psikologis.

Seiring dengan perkembangan jaman, teori arsitektur yang dikemukakan oleh Vitruvius mengalami perkembangan juga. Berakar dari ketiga unsur arsitektur diatas dapat dikembangkan menjadi dua elemen utama yaitu primary dan secondary element yang saling berkaitan. Yang pertama ialah fungsi sebagai primary element yang berkaitan dengan konteks sebagai secondary element. Pada arsitektur modern, fungsi hanya dikaitkan dengan bentuk bangunan saja ( form follows function ), sehingga filosofi tersebut menciptakan keseragaman antara bentuk dan fungsinya. Kekurangannya ialah perhatian terhadap konteks tempat yang terabaikan. Terbukti dengan kegagalan sebuah karya moderen Le corbusier di India yaitu Chandigardh yang tidak memperhatikan konteks lokal setempat sehingga karya tersebut tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Yang kedua ialah bentuk ( form ) yang berkaitan dengan struktur. Pemilihan struktur menentukan bentuk yang akan terwujud, begitu juga sebaliknya dalam merancang sebuah bentuk bangunan perlu diperhatikan juga struktur apa yang memungkinkan untuk mendukung bentuk yang direncanakan. Bentuk-bentuk cubisme dapat diwujudkan dengan pemilihan struktur rangka kaku, berbeda dengan bentuk-bentuk lengkung yang dapat didukung dengan struktur yang memiliki kemampuan atau wujud melengkung seperti struktur shell, struktur tabung, dll. Yang ketiga ialah meaning ( arti / maksud ) yang berkaitan dengan will ( keinginan ). Dalam karya arsitektur dewasa ini, ‘arti’ dari sebuah rancangan memiliki peran penting dalam mewujudkan suatu karya yang baik. Dalam hal ini ‘arti’ dipengaruhi oleh keinginan sang arsitek maupun klien. Karya arsitektur yang memiliki arti ( mean ) dapat memadukan keinginan arsitek dan keinginan klien dengan baik.

Tekno Ekonomi dalam arsitektur berhubungan dengan perkembangan teknologi yang berkaitan dengan struktur bangunan dan sumber daya alam maupun manusia dalam mewujudkan suatu karya arsitektur, serta efisiensi dari struktur bangunan sebagai aspek ekonomi yang melekat pada setiap karya arsitektur. Pada teori yang dikemukakan Vitruvius dan perkembangannya tadi bahwa bangunan yang baik harus memiliki keseimbangan antar keindahan, kekuatan, dan fungsi. Keindahan diwujudkan kedalam bentuk dan kekuatan didapat oleh sistem struktur yang memadai. Dengan demikian, posisi tekno-ekonomi di dalam teori arsitektur berada pada lingkup venustas ( keindahan ) dan firmitas ( kekuatan ).

Pada prinsip-prinsip teori arsitektur abad ke-20 dalam buku Le Corbusier’s Legacy, terdapat kategori gerakan arsitektur dengan paham / filosofinya masing-masing yang melahirkan suatu gaya arsitektur tersendiri. Diantara gaya-gaya arsitektur tersebut yang melekat dengan aspek tekno ekonomi ialah expressionism, constructivism, deconstructivism yang kesemuanya terlingkup pada teori arsitektur post-modern. Arsitektur post-modern dengan berbagai paham-paham filosofinya menampilkan karya arsitektur yang diluar tradisi masa kini. Dapat dikatakan karya-karya yang ada sangat mengekspresikan teknologi yang canggih. Ini terbukti dengan karya-karya yang menampilkan bentuk yang meliuk-liuk seperti contoh bangunan museum Guggenheim karya Frank Gehry. Bentuk dan struktur utamanya tentu sangat menuntut suatu teknologi yang canggih agar karya tersebut dapat dibangun.

Dengan demikian, tekno-ekonomi memiliki peran penting dalam perkembangan arsitektur dewasa ini. Perkembangan teknologi memicu adanya sumber-sumber baru baik dari segi struktur bangunan maupun dari segi pemikiran arsitek demi mewujudkan suatu era arsitektur yang baru. Aspek ekonomi yang selalu melekat disetiap bidang khususnya dalam bidang arsitektur selalu mengikuti perkambangan teknologi. Disini, efisiensi merupakan hal yang penting dalam mewujudkan suatu karya arsitektur dengan teknologi yang mutakhir.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar