Selasa, 03 Agustus 2010

KONTINUITAS SHOPFRONT PADA KORIDOR PERBELANJAAN (sebuah abstraksi)

Pertokoan merupakan elemen penting dalam membentuk suatu kegiatan komersil pada sebuah kota. Kualitas desain pertokoan yang baik mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kualitas dari lingkungan perbelanjaan tersebut. Ketertarikan pembeli pada suatu pertokoan sangat dipengaruhi oleh penampilan dari shopfront pertokoan tersebut. Desain shopfront yang baik merupakan salah satu cara mempromosikan barang dagangan dan aset yang baik bagi sebuah toko. Hal ini merupakan salah satu alasan bagi setiap toko untuk merancang shopfront-nya sedemikian rupa agar menarik perhatian pembeli.

Permasalahan yang terjadi disini ialah bahwa dengan alasan diatas, pertokoan berlomba-lomba untuk merancang shopfront-nya semenarik mungkin tanpa mempertimbangkan kesatuan rancangan shopfront satu sama lain. Hal ini menimbulkan kesan tatanan shopfront yang semrawut, tidak ada kontinuitas yang terjadi pada kawasan perbelanjaan itu. Permasalahan ini terjadi di kota Bandung khususnya pada koridor perbelanjaan Jl. Dalem Kaum. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menganalisa aspek-aspek yang turut mempengaruhi terbentuknya suatu kontinuitas shopfront pada koridor perbelanjaan, serta aktifitas yang ditimbulkan oleh tatanan desain shopfront tersebut.

Karakter dan kontinuitas shopfront pada suatu koridor perbelanjaan ditentukan oleh elemen-elemen desain shopfront itu sendiri. Elemen-elemen desain tersebut ialah fascia ( papan nama toko ), stallriser, pillasters, console, shop window, entrance, dll. Elemen-elemen tersebut biasa dipakai pada pertokoan di luar negeri khususnya di Inggris. Di Indonesia, khususnya pada koridor perbelanjaan Jl. Dalem Kaum Bandung, penggunaan elemen-elemen desain shopfront tidak selengkap seperti yang digunakan di luar negeri, tetapi ditemukan beberapa elemen yang digunakan yaitu fascia, shop window, dan entrance.

Setelah dilakukan penelitian, ditemukan bahwa penggunaan elemen-elemen fascia, shop window, dan entrance tidak konsisten pada tiap-tiap pertokoan di koridor perbelanjaan tersebut. Elemen-elemen desain yang membentuk suatu karakter shopfront itu tidak saling berintegrasi terhadap pertokoan di sekitarnya, dan memutuskan kontinuitas secara fisik dan visual.

Desain shopfront itu juga mempengaruhi aktifitas yang terjadi disekitarnya. Kegiatan yang penting terjadi pada sebuah koridor perbelanjaan ialah akses ke dalam pertokoan dan kegiatan window shopping. Desain shopfront dengan penggunaan shop window dan entrance yang baik memicu terjadinya kegiatan window shopping tersebut. Dan kegiatan inilah yang diharapkan terjadi pada suatu koridor perbelanjaan tanpa terputus kontinuitasnya oleh karena shopfront yang tidak memadai.

Shopfront turut mempengaruhi image dan karakter sebuah koridor perbelanjaan. Sebagai sebuah ruang kota, koridor perbelanjaan perlu memiliki image dan karakter yang baik, serta memberikan fasilitas pertokoan dengan akses yang baik, aman, dan nyaman dalam berkegiatan. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi dengan memberikan pengetahuan tentang pentingnya suatu desain shopfront yang kontinu dalam membentuk suatu image dan karakter yang baik pada sebuah koridor jalan perbelanjaan sebagai ruang kota.

YWS

Senin, 02 Agustus 2010

What Is "Sustainable Development"?




Definition:

"Sustainable development is development which meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs."
~World Commission on Environment and Development

The term sustainable development means that builders, architects, designers, community planners, and real estate developers strive to create buildings and communities that will not deplete natural resources. The goal is to meet today's needs using renewable resources so that the needs of future generations will be provided for.

Sustainable development attempts to minimize greenhouse gases, reduce global warming, preserve environmental resources, and provide communities that allow people to reach their fullest potentials.

Sustainable development will have many, although not necessarily all, of these characteristics:
  • Green architecture and eco-friendly building practices
  • Local building materials
  • Natural, bio-degradable building materials
  • Local workers
  • Renewable sources for water
  • Renewable energy sources such as solar and wind
  • Protection of natural habitats
  • Planned replacement for any resources used
  • Non-polluting construction practices and industries
  • Walkable communities
  • Mixed-use communities that combine residential and commercial activities
  • New Urbanism
  • Adaptive reuse of older buildings
  • Use of recycled architectural salvage
The emphasis of sustainable development is on the conservation of environmental resources. However, the concept of sustainable development is often broadened to include the protection and development of human resources. Communities founded on principles of sustainable development may strive to provide abundant educational resources, career development opportunities, and social services.

Also Known As:
sustainable design, green architecture, eco-design, eco-friendly architecture, earth-friendly architecture, environmental architecture, natural architecture

Examples:
The Villages of Loreto Bay in Loreto Bay, Mexico is promoted as a model of sustainable development. The community claims to produce more energy than it consumes and more water than it uses. Some environmentalists charge that the developers' claims are overstated.

Sumber: http://architecture.about.com/od/greenconcepts/g/sustainable.htm

What Is "Green Architecture" and "Green Design"?




Definition:

Green architecture, or green design, is an approach to building that minimizes harmful effects on human health and the environment. The "green" architect or designer attempts to safeguard air, water, and earth by choosing eco-friendly building materials and construction practices.

Green architecture may have many of these characteristics:
  • Ventilation systems designed for efficient heating and cooling
  • Energy-efficient lighting and appliances
  • Water-saving plumbing fixtures
  • Landscapes planned to maximize passive solar energy
  • Minimal harm to the natural habitat
  • Alternate power sources such as solar power or wind power
  • Non-synthetic, non-toxic materials
  • Locally-obtained woods and stone
  • Responsibly-harvested woods
  • Adaptive reuse of older buildings
  • Use of recycled architectural salvage
  • Efficient use of space
While most green buildings do not have all of these features, the highest goal of green architecture is to be fully sustainable.

Also Known As:
Sustainable development, eco-design, eco-friendly architecture, earth-friendly architecture, environmental architecture, natural architecture

Examples:
The Magney House: Energy-conserving home by Australian architect Glenn Murcutt
LEAFHouse: A vine-covered solar house designed by students from the University of Maryland
Katrina Cottage: Low-cost and energy-efficient emergency pre-fab housing
Solar-Powered Victorian: A historic inn with high-tech photovoltaic panels
Earth House: This home in Loreto Bay, Mexico is made with compressed earth blocks

Sumber: http://architecture.about.com/od/greenconcepts/g/green.htm

Apakah Kita Perlu Membangun Bangunan Tinggi Seperti Empire State Building ? Kenapa Indonesia Tidak Membangun Bangunan Pencakar Langit ?




Bangunan tinggi Empire State Building telah menjadi salah satu icon tersendiri di Amerika Serikat khususnya kota New York. Dibangun dengan ketinggian mencapai 102 lantai dengan struktur utama rigid frame pada tahun 1931, bangunan ini dinilai sebagai kemajuan teknologi dalam bidang konstruksi pada saat itu. Empire State Building kemudian dinobatkan sebagai bangunan tertinggi di dunia, dan bertahan selama kurang lebih 40 tahun sampai berdirinya menara kembar World Trade Center pada tahun 1972. Seiring dengan perkembangan zaman dan pengetahuan teknologi konstruksi yang semakin berkembang, bangunan-bangunan pencakar langit lainnya bermunculan seperti Sears Tower, Menara Petronas di Malaysia, dan yang belakangan ini sedang hangat dibicarakan yaitu Al Burj Dubai yang sangat fenomenal.

Melihat prestasi Amerika Serikat yang sudah dapat mendirikan bangunan tinggi pada tahun 1931 merupakan hal yang luar biasa. Bangunan dengan ketinggian 381 m tersebut bahkan sudah berdiri sebelum Indonesia merdeka. Dan sampai saat ini, belum ada bangunan pencakar langit setinggi itu di Indonesia. Ini menunjukan bahwa kita bangsa Indonesia sudah tertinggal selama kurang lebih 80 tahun dari Amerika Serikat. Lalu muncul pertanyaan yang juga menjadi issue pembahasan dari tulisan ini yaitu Apakah perlu kita membangun bangunan setinggi 100 lantai demi mengejar ketertinggalan teknologi konstruksi dari Amerika Serikat?

Menurut saya, kita tidak perlu membangun bangunan setinggi 100 lantai atau lebih demi mengejar ketertinggalan kita dari Amerika Serikat dan menunjukkan pada dunia bahwa bangsa kita sudah maju dalam hal teknologi konstruksi. Tahun 1931 hingga tahun 2010 merupakan kurun waktu yang sangat panjang. Telah terjadi kemajuan yang pesat dalam bidang ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang konstruksi. Issue mengenai teknologi sudah berubah, teknologi zaman dulu yang disebut juga teknologi fosil kini sudah berganti menjadi teknologi tata surya. Bahan baku konstruksi seperti beton, baja, ataupun baja ringan kini sudah menjadi hal yang biasa. Jenis struktur yang umum dipakai dalam membangun bangunan tinggi seperti rangka kaku ( rigid frame ), dinding geser ( shear wall ), rangka di dalam rangka ( tube in tube ),dan sebagainya jika diterapkan pada saat ini sudah tidak menunjukkan kemajuan teknologi yang berarti, karena di beberapa negara maju dan berkembangpun telah menerapkan sistem teknologi seperti ini. Bukan berarti kita tidak boleh membangun bangunan pencakar langit. Belakangan ini terdengar kabar bahwa Indonesia akan memiliki gedung pencakar langit yaitu Menara Jakarta. Kabarnya menara tersebut memiliki ketinggian 558 m dan direncanakan selesai didirikan pada tahun 2012. Hal ini tentunya akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia.

Apa yang kita hadapi saat ini adalah krisis energi, pemanasan global dan krisis sumber daya alam lainnya. Mengacu pada krisis energi listrik misalnya, belakangan ini sudah banyak dibicarakan tentang panel photovoltaic yang dapat diterapkan dibangunan perumahan. Panel tersebut merupakan alat pembangkit tenaga listrik melalui tenaga matahari. Tenaga matahari tidak akan habis dan gratis, ini berarti penggunaan photovoltaic dapat menghemat biaya operasional dan dapat menjadi pilihan dalam upaya menghemat energi. Suatu jawaban terhadap tantangan krisis pada saat ini dapat dikatakan sebagai suatu kemajuan teknologi.

Jadi menurut saya, untuk menunjukkan bahwa bangsa kita sudah maju dalam bidang teknologi ialah dengan mengembangkan suatu teknologi yang mampu menjawab tantangan masa kini. Dengan pengetahuan-pengetahuan yang ada pada saat ini kita dapat mengembangkan suatu teknologi yang hemat energi khususnya dalam bidang arsitektur dengan menerapkan teknologi tata surya pada perumahan maupun pada bangunan tinggi. Tentunya pengembangan teknologi tidak sebatas pada tata surya saja, sumber daya alam lainnya seperti angin, thermal, air dan sebagainya dapat diolah menjadi sumber energi yang mampu menghemat biaya operasional sebuah bangunan.

Dari uraian pada halaman sebelumnya, dijelaskan jika kita bangsa Indonesia tidak perlu membangun bangunan pencakar langit demi mengejar ketertinggalan kita di bidang teknologi konstruksi. Issue tantangan krisis energi yang dewasa ini menjadi permasalahan yang penting dan perkembangan teknologi yang pesat dalam menjawab tantangan krisis tersebut menjadi pertimbangan untuk tidak membangun bangunan tinggi, melainkan cenderung lebih kepada mencari cara untuk mengatasi krisis tersebut. Kemudian muncul suatu pertanyaan yang akan menjadi pembahasan selanjutnya, “ Kenapa negara-negara berkembang / negara-negara maju terus membangun bangunan tinggi / pencakar langit pada saat ini ? “

Peradaban manusia memang tak henti-hentinya membangun bangunan tinggi. Dimulai dengan Piramid Giza dan Taman Gantung di Babylonia ribuan tahun lalu, menara Eiffel pada akhir abad 19, sampai gedung Empire State Building pada awal abad 20. Sejak itulah muncul bangunan-bangunan tinggi pencakar langit lainnya seperti CN Tower, Sears Tower, Petronas Tower dan yang terakhir Burj Dubai.

Bicara bangunan pencakar langit berarti bicara gengsi, kebanggaan, dan juga tourism / pariwisata. Keberadaan gedung pencakar langit di Indonesia tentunya membawa kebanggan tersendiri dan menghasilkan devisa negara. Bangunan tinggi juga merefleksikan kekuatan politik dan ekonomi suatu negara. Mendirikan suatu bangunan tinggi pencakar langit seperti Burj Dubai atau Empire State Building bukanlah masalah mensiasati lahan yang semakin sempit / terbatas dan memiliki harga yang mahal. Jelas prestis dan kebanggaan untuk menjadi negara yang iconic-lah yang menjadi alasan didirikannya bangunan-bangunan pencakar langit.

Permasalahannya apakah Indonesia benar-benar membutuhkan menara setinggi 100 lantai atau lebih? Secara teknis tak banyak orang yang ingin tinggal atau bekerja di level lantai yang terlalu tinggi. Semakin tinggi lantai sebuah bangunan, semakin tinggi juga biaya sewanya. Hal ini membatasi segmen pasar pada orang-orang kalangan atas yang jumlahnya tidak banyak di Indonesia. Lalu akan diisi dengan fungsi apa bangunan tersebut kalau aktifitas yang ada tidak menuntut ruang setinggi bangunan pencakar langit.

Faktor ekonomi juga menjadi masalah tersendiri. Dengan berdirinya suatu gedung pencakar langit menandakan perekonomian suatu negara yang kuat. Namun, beberapa fakta menunjukkan adanya krisis ekonomi ketika suatu bangunan tinggi selesai dibangun. Misal, ketika Empire State Building dibangun, beberapa tahun kemudian Great Depression malah melanda Amerika dan pengaruhnya menyebar ke seantero dunia. Setelah Sears Tower dan World Trade Center kelar, ekonomi Amerika tersungkur dan pengangguran meningkat tajam dekade itu. Ketika Petronas Tower dibangun, krisis moneter meluluhlantakkan Asia. Dan bahkan ketika BNI Tower dibangun, setahun kemudian kita dihajar krisis moneter.

Jadi menurut saya, kebanggaan dan prestis-lah yang menjadi alasan utama negara-negara berkembang dan negara-negara maju terus mendirikian bangunan pencakar langit disamping mendatangkan devisa. Karena kalau dilihat dari segi ekonomi, Dubai-pun sedang dililit hutang yang angkanya mencapai ratusan milliar dollar AS ketika membangun bangunan pencakar langit Al Burj. Jadi, icon berdirinya bangunan pencakar langit tidak selalu menandakan kondisi perekonomian yang kuat pada suatu negara. Menurut saya, proposal desain dan perhitungan keuntungan bangunan tinggi dalam jangka panjang berperan penting untuk meyakinkan pemerintah negara dalam mendirikan bangunan pencakar langit tersebut. Namun demikian, untuk keuntungan jangka panjang kita dapat mengembangkan suatu teknologi pada bangunan tinggi yang hemat energi. Contoh seperti yang dikembangkan oleh Kenneth Yeang, yaitu arsitektur bioklimatik. Arsitektur ini memperhatikan lingkungan merupakan arsitektur masa depan, karena dalam arsitektur jenis ini akan didapatkan penyelesaian yang baik untuk menanggapi iklim tanpa menggunakan lebih banyak resource sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui seperti minyak bumi untuk mempertahankan kondisi ideal bangunan, misalnya suhu, kelembaban, serta pencahayaan dan penghawaan.

YWS



Uang Rp 1000,- Mau diBikin Jadi Rp 1,- ???



Pernahkan anda membayangkan untuk menerima gaji sebesar Rp 1.500 per bulan? Ya, kemungkinan besar hal tersebut akan terjadi kira-kira 5 tahun kedepan jika saat ini gaji anda sebesar Rp 1,5 juta.

Pasalnya, Bank Indonesia (BI) tengah melakukan pembahasan internal untuk dapat melakukan redenominasi. Redenominasi yaitu pengurangan nilai pecahan tanpa mengurangi nilai dari uang tersebut. Kasarnya, angka nol dalam sebuah pecahan akan dikurangi, jika dikurangi 3 angka nol maka Rp 1.000.000 akan menjadi Rp 1.000.

'Redenominasi itu prosesnya akan dibicarakan dulu dengan pemerintah dan presiden dan harus melalui Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) baru kita sosialisasikan,' ujar Gubernur Bank Indonesia terpilih Darmin Nasution di Gedung Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Sabtu (31/07/2010).

Darmin menuturkan, pihaknya akan segera menyampaikan hasil final pembahasan internal kepada pemerintah di tahun 2010. 'Belum bisa diputuskan sekarang berapa angka nol yang dikurangi apakah 3 atau 4 namun hasil pembahasan akan diusahakan disampaikan ke pemerintah tahun 2010 ini,' jelas Darmin.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Bank Indonesia S Budi Rochadi mengatakan, dalam melakukan redenominasi membutuhkan waktu antara empat sampai lima tahun.

'Prosesnya tidak singkat, harus membutuhkan 4 sampai 5 tahun,' katanya.

Menurut Budi, diperlukan adanya penarikan uang secara bertahap yang beredar di masyarakat. Seperti diketahu uang pecahan Indonesia yang terbesar saat ini Rp 100.000.

Uang rupiah saat ini tercatat mempunyai pecahan terbesar kedua di dunia, terbesar pertama adalah mata uang Vietnam yang mencetak 500.000 Dong. Namun tidak memperhitungkan negara Zimbabwe, negara tersebut pernah mencetak 100 miliar dollar Zimbabwe dalam satu lembar mata uang.

Budi menuturkan, untuk bisa melakukan penyederhanaan satuan uang tersebut membutuhkan sejumlah persyaratan. Setidaknya ada tiga syarat yang mutlak dipenuhi yaitu kondisi perekonomian yang stabil, inflasi rendah dan stabil, serta adanya jaminan stabilitas harga.

'Hal yang paling sulit dilakukan dengan cepat dan mudah adalah sosialisasi kepada seluruh masyarakat Indonesia yang mencapai ratusan juta jiwa,' tukasnya.

sumber: detik

Minggu, 01 Agustus 2010

KONFLIK RUANG PUBLIK PADA RUANG JALAN PERKOTAAN



Arsitektur perkotaan tidak hanya berupa massa padat tetapi juga merupakan ruang-ruang yang terbentuk dari tatanan massa padat itu sendiri. Ruang jalan merupakan bagian dari ruang kota ( ‘urban space’ ) yang biasanya terbentuk oleh muka bangunan dan lantai kota. Dengan demikian ruang jalan sebagai ruang kota yang mengakomodasi kegiatan publik perlu mendapatkan penataan dengan kualitas yang baik.

Secara normatif ruang jalan merupakan domain publik yang memang semestinya diciptakan untuk masyarakat dalam melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain baik itu dengan berjalan kaki, maupun dengan berkendaraan. Oleh karenanya suatu ruang jalan harus mampu mewadahi kegiatan tersebut dengan baik. Namun kenyataannya, ruang jalan kerap kali dimanfaatkan oleh kegiatan lain. Sektor informal sering kali mengintervensi ruang yang seharusnya milik publik menjadi miliknya sendiri seolah-olah ruang tersebut merupakan ruang privat bagi mereka. Konflik publik-privat seperti ini tak dapat dipungkiri terjadi di kota-kota besar di Indonesia, dan penyebab terjadinya konflik tersebut bukan saja karena persoalan rancangan fisik ruang jalan itu sendiri melainkan terlibat didalamnya masalah sosial, kebudayaan masyarakat, dan faktor ekonomi.

Contoh pada suatu koridor perbelanjaan di kota Bandung yaitu jalan Dalem Kaum dan jalan Kepatihan. Koridor perbelanjaan ini merupakan sebuah ruang jalan yang aktif. Kegiatan pejalan kaki untuk melakukan aktifitas window shopping dan pengguna kendaraan dalam berlalu lintas sudah semestinya dapat terwadahi dengan baik. Namun pada keyataanya, telah terjadi penyalah-gunaan fungsi trotoar sebagai wadah untuk pejalan kaki dan badan jalan untuk berkendaraan. Pada trotoar yang sedianya diciptakan untuk pejalan kaki dipenuhi oleh pedagang kaki lima, sehingga ruang untuk berjalan kaki semakin sempit dan tidak nyaman digunakan. Pejalan kaki harus bergeser ke tepi badan jalan untuk melakukan aktifitasnya dan rawan konflik dengan kendaraan yang menggunakan badan jalan tersebut. Tidak berhenti sampai disitu, ternyata kurangnya sarana parkir menjadikan badan jalan sebagai ruang parkir kendaraan, sehingga ruang efektif jalur kendaraan semakin menyempit dan arus lalu lintas menjadi tersendat.




Dengan demikian, diperlukan suatu rancangan fisik ruang jalan khususnya pada koridor perbelanjaan yang dapat mewadahi kegiatan pejalan kaki dan berlalu lintas dengan baik, sehingga tidak terjadi penyalah-gunaan fungsi pada koridor jalan tersebut. Penggunaan badan jalan sebagai sarana parkir dan keberadaan pedagang kaki lima tidak bisa dihilangkan begitu saja, perlu diciptakan suatu wadah yang dapat menampung kegiatan mereka sehingga tidak mengganggu kepentingan publik secara keseluruhan. Selain rancangan ruang fisik jalan itu sendiri, pengelolaan dan pengawasan menjadi faktor penentu keberhasilan dalam mempertahankan fungsi raung jalan sebagai sarana pejalan kaki dan kendaraan. Terlebih perhatian diberikan kepada penyandang cacat yang memiliki tuntutan khusus dalam melakukan pergerakannya pada ruang jalan tersebut.

YWS

HOUSE AS THE OWNER IDENTITY REFLECTION

Architecture could defined as an knowledge that creates a place consist function and aesthetics, and also need an inspection about human behavior. The unification between human behavior and architecture itself is a physic-environment architecture design. In this case, architecture can function as fasilitator of human behavior either or blocked the human behavior itself.

Human behavior belief as an unmeasurable things. Related to phsycology, human behavior can classified into two aspects. Behavior in plain view ( sitting, sleeping, talking, etc ) and behavior unplain view ( motivation, attitude, etc ). Those behavior indicate an existention of human being, that is interaction of human with others and also interaction of human and its surrounding.

Considering the reality that imagination and idea, or something has planned in architectural design can be different after occupied in function aspect. Therefore, we need to learn about human behavior in designing a place for them. Abraham Maslow, 1943, has classified a stages of hierarchy of needs:



• Physiological needs


• Safety / security needs


• Social ( belonging ) needs


• Ego ( esteem ) needs


• Self-actualization




Those levels have to be fulfilled from below before it can reached the next level of human needs. This hierarchy of needs influence the development of architecture and became certain culture in human behavior in order to shape they surrounding and buildings.

According to Maslow, human being are never satisfied with their achievement. After one need fulfilled then another higher need will appear, and they are try to reach it. The most basic need is physiological need. Physiological need is the basic need which have to fulfilled for maintaining human’s life such eat, drink, sleep that can influence mind and also attitude. Human being can not satisfied and feel uncomfortable when this basic need not fulfilled yet. Safety / security need, this level can reached after the physiological need fulfilled. Safety / security include feeling safe from crimes, economic, health, and freedom of fear. Social ( belonging ), human being need love, they will create a family to love, friendship with others, join an organization, etc. Ego ( esteem ), this kind of need is about to be accept or respect by others, and want to give contribution to other people in their job either or in their surrounding. The highest need is self actualization. This need can be reached after the all needs below have fulfilled. People in self actualization level are creative people, spontaneus, love to solve a problem, have an authority, accept all reality, and respect to their own life.



According to Van Romandt, architecture is a space for human being to live with happiness feeling. Also we can say that a house is a place that human being live in with happiness feeling. Happiness in architecture related to human behavior is difficult to define. However, maslow’s hierarchy of needs can help to describe about happiness and its relation in architecture development specifictly in order to shape a house.

According to Maslow’s hierarchy of need, after human being have fulfilled the basic needs, then necessity of a house is one of human motivation to reach a better high quality of life. With the possession of a house, even though it is a small house, authentically the owner has had a control about the space which can be arranged suitable for them. The space will give a response to the owner and so does the owner give response to their space. So, there is a connection in both sides in order to create a comfortable place in the house. Not only to avoid the weather such as rain and sunshine, but also too give composure, happiness, and even to create a memory about whole things on their lives.

A house can reflect the identity of the owner. In this case, people ussually judge the other people based on their property. Material achievement became a symbol of success. But as we know, house is more than material success, house is a necessity. In hierarchy of needs, house is in the basic need. No matter how good or bad the condition of the house, people need it as a shelter from their surrounding threats. And after the basic need has fulfilled, then human being begin to develop their house into a better house, either on the condition ( exterior house ) or inside the house ( activities ). Refers to the photos in page before, we could see exteriorly the different between the house that has fulfilled the hierarchy of needs and the one that not fulfilled yet. A house should reflect prosperity of the owner, and also the hierarchy of needs can be the indicator of the prosperity of human being.

However, there is an aspect that hierarchy of needs can not be seen as a material success achievement. Happiness, as Van Romandt said, is an important thing to create architecture in order to shape a house. In this case, people do not have to fulfilled a certain level to reach the next level or reach a couple levels above. For example, people do not have to fulfilled the physiological and safety needs to reach a social ( belonging ) need, it can be run simultaneously. It is about how people feel sufficient or feel happy about their lifes and property. So, we can not say that simple small house mean the owner not fulfilled the hierarchy of needs yet. Or we can say, the owner have sufficient with finished in social ( belonging ) level, so they don’t have to move to other higher level such esteem and self actualization needs. Therefore, hierarchy of needs has a strong relationship with human being’s happiness. Shape of the house can be considered through hierarchy of needs and happiness of the owner.

YWS